Realitas Kita; Ke Mana Nurani?

Loading...

“Belum ada obatnya, Dok. Petugas apotek tadi bilang kalau obatnya baru ada besok siang“, ujar perempuan separuh baya di samping anaknya yang tergeletak lemas di tempat tidur rumah sakit besar itu. Tidak perlu bersusah payah melakukan anamnesis atas anak kecil itu. Dari jauh terlihat jelas badannya yang ringkih, bak tinggal tulang dililit kulit.

Protein Energy Malnutrition (PEM), para dokter biasa menyebutnya. Tapi sebenarnya bukan itu yang membawa anak kecil ini masuk RS. Keluhan utamanya adalah pembesaran pada bagian perut dalam 3 bulan terakhir. Gejala tumor, dugaanku.

Dengan kondisi ekonomi keluarganya yang kelihatan di bawah dari cukup, kelas III di RS Pemerintah, mungkin, sudah dianggap “cukup” pula baginya. Tak perlu masuk ke ruang perawatan kelas I atau VIP, meskipun penyakit yang diderita anak kecil ini terbilang luar biasa.

Asal kita tahu, kualitas pelayanan kesehatan di kelas III sungguh sangat berbeda dibandingkan dengan kelas II, I apalagi kelas VIP/VVIP. Jadilah orang tuan anak kecil itu hanya mampu mengurut dada menantikan tibanya keberuntungan : anaknya sembuh dan tidak harus lama menginap di RS yang tidak ramah itu.

Kadang, menjadikan kenyataan yang menimpa orang lain bisa membantu kita menemukan kedirian. Anak kecil yang tak berdaya, orang tuanya yang tidak bisa berbuat banyak kini di depan mata. Mereka melawan diskriminasi yang bukan main hebatnya.

Mereka dipaksa tunduk pada birokrasi pelayanan publik yang repotnya minta ampun. Urusan-urusan kecil semisal pengambilan obat misalnya, mesti menunggu berjam-jam atau hingga berhari-hari baru bisa didapatkan.

Dalam ke-naas-an seperti ini, kemanakah nurani kita? Apakah karena sedemikian seringnya hal ini terjadi di depan mata kita, sehingga kemudian menghalalkan kita untuk melaziminya sebagi sebuah konsekuensi hidup?

Loading...