Penantian

Loading...

Kelak, jika Tuhan mengizinkan, dalam kesempatan yang diberikan-Nya, aku akan membuktikan bahwa apa yang telah kuputuskan saat ini bukanlah sebuah kekeliruan yang harus disesali atau dibenci seumur hidup, bukan pula sebagai sebuah kepalsuan dan arogansi kelaki-lakian…
(Apologi Cinta; Catatan Pasca Menyet, 2003).

Makassar, 14 November 2003

Matahari tinggal setengah galah tingginya dari ufuk barat, persis saat kunyatakan perasaaanku – melalui telepon – padamu. Saat semua orang lagi bersibuk diri mengurai kerja sehari lepas, bersiap menyambut hadirnya malam. Gagang telepon umum yang kugunakan, masih terlihat menggelantung tak tentu arah, beberapa jurus setelah momentum paling bersejarah dalam sejarah hidupku itu.

Tersirat sepucuk rasa bersalah karena tanpa sadar, ku telah memfragmentasi persahabatan yang selama ini kita rajut. Banyak orang yang sebelumnya menganggap kita pasangan serasi, tapi hanya sebatas sebagai teman. Tidak lebih, pun tak berlebih.

Masih kuingat, detik-detik mendebarkan takkala ribuan urat sarafku memutuskan untuk mempropagasi kalimat : “Rasanya, Aku mencintaimu. Menginginkanmu lebih dari sekadar teman saja!”.

Meski semua energi simpanan telah ku keluarkan tuk mendukung kesuksesan proses itu, toh tak jua bergeming kalbu dari semacam perasaan bersalah. Adakah yang memang belum dan harus kukatakan?

14 November 2003. 17.13 WITA

Dering telepon di sudut kamarku memecahkan keheningan sore itu. Aku baru saja terbangun dari tidur. Maklum, seharian tadi berkeliling kota bareng teman-teman se-geng. Jadinya capek sekali. Tapi kupaksa juga menghampiri meja kecil tempat telepon rumah kuletakkan.

“Hallo!” Ujarku sekenanya, mengangkat gagang telepon dengan mata yang masih sayup-sayup. Masih ngantuk. Untung saja dering telepon di kamar ini berhasil membangunkanku. Kalau tidak, sampai Isya’ mungkin, aku masih akan terlelap.

“Siapa ya?” Hatiku bertanya, mengherankan hadirnya telepon sesore ini.

“Assalamu Alaikum, Ifah. Lagi ngapain?” Suara dari ujung telepon, laki-laki, tapi nadanya cukup bersahabat, pikirku. “Waalaikummussalam. Ini siapa?” Tanyaku selanjutnya. Beberapa penjual putu1 melintasi jalananan depan rumah, berteriak-teriak menjajakan jualannya. Sore terus merayap memuja hadirnya malam.

“Enggak, Mm… bukan siapa-siapa kok. Aku temanmu, masak nda kenal?”

“Oooo… iya, kamu temanku, tapi siapa yah? Aku lagi ngantuk nih…kalau mau ngomong serius, besok aja!”. Pintaku sedikit kesal. Tapi sesungguhnya aku penasaran juga. Kok malam-malam begini ada yang nelpon dan kedengarannya serius. May be it’s a surprize! harapku.

“Gimana yah….aku….aku ini Riko. Masa nda kenali suaraku?”

“Ah! Saya kira siapa. Emang ada apa nelpon malam-malam begini? Pentingkah?” Ketusku padanya di ujung telepon. Mataku nanar, kangen sama bantal. Masih ngantuk banget rasanya.

“Nda…Aku Cuma mau bilang suatu hal padamu. Tidak apa-apa kan?” Terdengar suaranya sedikit lebih lembut untuk kalimat terakhir itu. Maknanya dalam dan sedikit misterius. Aku semakin penasaran. Riko yang selama ini kukenal sebagai teman yang selalu jor-joran, kok tiba-tiba bersikap aneh dan tidak bisa ngomong seperti biasanya. Akankah….? Perasaanku berkecamuk, tidak tentu arah. Akh, Riko kan sudah punya pacar? Kenapa harus begini?

“Emang Riko mau ngomongin apa?” Tanyaku berdebar.

“Oh ya, Ifah nda marah kan kalau Riko jujur tentang diri Riko ke Ifah?”
“Silahkan..”

“Anu, begini….Riko sebenarnya….Aduh, gimana yah memulai mengatakannya?” Kedengaran desah gugup di seberang telepon. Agaknya ini penting sekali bagi Riko. Apa yah?

“Katanya mau ngomong…..Riko mau bilang apa sih? Cepat dong, aku mau istirahat nih… Besok ada kuliah pagi”.

“Ooh.. maaf. Mafkan Riko kalau begitu. Kalau Ifah mau istirahat, istirahat aja dulu. Kan besok masih banyak waktu kok”. Sambut Riko bak dipenuhi rasa bersalah.

(Bersambung……..).

Loading...