Orang Gila dan Kegilaan Kita

Loading...

KIta pasti sudah pernah melihat atau bertemu langsung dengan orang gila. Tapi, tahukah apa yang menjadi perbedaan antara kita (yang mengaku masih normal) dengan orang gila? Ternyata pada prinsipnya tidak ada. Menurut Freud, diri manusia tersusun atas tiga faktor; Id, Ego dan Superego.

Pada keadaan “trans”, manusia yang kita sebut gila, sesungguhnya masih tetap berdiri atas 3 esensi itu, tanpa berkurang. Hanya mungkin, kegilaan mereka pada beberapa kasus justru kemudian menganggap kita yang mengaku normal ini sebagai orang yang gila. Coba bayangkan, kita dicap gila oleh orang-orang yang kita anggap gila? Bukankah itu kegilaan yang justru luar biasa?

Tapi sudahlah, karena ternyata mereka yang gila tak pernah sedikit pun mau meluangkan waktu memikirkan ketepatan penyebutan mereka kepada kita. Bukankah begitu? Pada keadaan yang kita anggap gila itu, jika hendak menilik lebih jauh, ternyata kegilaan mereka jutru menjadi pintu kebebasan yang sangat membahagiakan buat mereka.

Betapa tidak, hari ini, mereka yang kita anggap gila, adalah pribadi-pribadi bebas tak terikat yang mau bikin apa saja tidak akan pernah disalahkan secara normatif oleh kita, yang mengaku masih normal.

Malah menjadi tragis jika ada orang normal yang kemudian memaki-maki orang gila karena kelakuannya atau karena perbuatannya, karena itu justru akan dianggap lebih gila!

Kemerdekaan absolut orang gila – terlepas dari ketidakbebasan mereka atas realitas ke-Ilahian – pada kenyataannya harus diakui sebagai sebuah kenyataan yang tidak terbantahkan. Dalam patofisiologinya (istilah kedokteran untuk menjelaskan proses perjalanan terjadinya penyakit), kegilaan atau sebuah gangguan kesehatan mental sebagian besar diawali oleh adanya stressor psikososial dalam kehidupan.

Beban hidup yang tidak disanggupi atau akibat tekanan sosial yang melebihi kapasitas seseorang yang masih normal, seringkali menimbulkan gejala stress dan kecemasan (anxietas) yang luar biasa.

Jika memiliki kecerdasan dialektis yang optimal, mungkin beban-beban tersebut masih bias dilalui meski harus tertatih-tatih. Tetapi jika pertahanan mental dan psikologis kita sudah tidak mampu lagi mengelola beban tersebut karena satu dan lain hal, maka pintu “kegilaan” menjadi terbuka lebar menanti kita.

Dengan demikian, menjadi sedikit bisa kita mahfumi jika kegilaan sesungguhnya adalah mekanisme penyesuaian agar manusia dapat menyelesaikan masalah dan beban hidup yang menghimpitnya.

Bukankah prinsip umum penyelesaian masalah selain dengan cara menghadapinya, juga bisa dengan jalan lari dari permasalahan tersebut? Dengan demikian, apakah kita setuju jika menyimpulkan bahwa “menjadi gila” dapat dianggap sebagai mekanisme “lari dari permasalahan” yang ada?

Tulisan ini bukan bermaksud membela kegilaan yang seringkali kita jumpai dalam realitas kemasyarakatan kita, melainkan mencoba mengangkat realitas kegilaan sebagai bagian dari dimensi kehidupan yang tidak boleh kita nafikkan atau kita pandang sebelah mata.

Mereka, yang kebetulan menjadi gila, sesungguhnya memiliki derajat, harkat dan martabat yang masih tetap sama dengan kita yang mengaku masih normal.

Jangan membuat diskriminasi kemanusiaan lagi! Karena toh, kegilaan mereka merupakan jalan terbaik menyelesaikan problem kehidupan mereka yang setidak-tidaknya tidak (akan) banyak mengganggu realitas kenormalan kita.

Atau, jangan-jangan, kita yang masih menganggap diri normal ini, justru benar-benar telah menjadi gila, tanpa kita sadari sedikit pun? Mungkin suatu waktu, kita perlu meluangkan waktu untuk sekadar bertanya kepada mereka yang saat ini kita labeli “orang gila”.

Loading...