Dehymenisasi (Coba Saat Hymen Tidak Lagi Menjadi Ukuran Keperawanan)

Loading...

Dalam sejarah mula peradaban, kehadiran wanita hanya dinisbatkan sebagai “pelengkap” atau “barang komplementer” bagi kehidupan pria. Ini diketahui dalam cerita Nabi Adam a.s. yang karena merasa kesepian dan ketakbermaknaan hidupnya di bumi pengasingan, kemudian meminta kepada Tuhan untuk menghadiahkannya “teman” hidup.

Sebagai teman hidup (dalam perspektif materialisme kita), wanita kemudian dipersepsikan sebagai “penampakan” atas ukuran-ukuran manusiawi yang kerap dijumpai dalam kehidupan pria. Tidak heran jika selanjutnya muncul pepatah: “Wanita adalah tiang negara”, “pria adalah pelindung kaum wanita”, atau “wanita merupakan simbol kelemahan makhluk”, dan lain sebagainya.

Pada takaran berikutnya, khusus untuk internal wanita sendiri, melekatlah stigma-stigma pembatasan, misalnya saja dalam hal keperawanan, keberpendidikan, maupun dalam paradigma keberagamaannya.

Hingga saat ini, tak dapat dipungkiri bahwa, wanita masih hidup dalam bayang-bayang stigma yang dilekatkan pada dan diterima secara lapang dada olehnya. Pria masih menjadi “penguasa” bagi mereka. Bahkan untuk mengatakan seorang wanita masih perawan atau tidak lagi – berdasarkan kondisi hymen-nya, pria masih berada pada posisi dominan.

Memandang Wanita dalam Perspektif Hymen

Entah karena dasar apa, hymen – selaput dara yang terpampang pada bagian dalam vagina wanita, sejak dulu dijadikan ukuran keperawanan.

Ihwal penemuannya pun masih kabur, sekabur substansi ke-hymen-an itu sendiri. Dari sinilah muncul semacam kesimpulan bahwa, ternyata hingga saat ini, wanita – termasuk keperawanannya, masih (hanya) diukur dengan batasan-batasan material yang dilekatkan padanya. Selain kecantikan, batasan material itu juga adalah selaput dara (hymen).

Dalam tradisi ke-kampung-an kita, kesakralan hymen menjadi tidak diragukan lagi – ia seperti titik kulminasi hidup dan matinya wanita. Karena hymen-lah, wanita kerap dikucilkan, dengan alasan tidak mampu menjaga diri (dan kehormatannya).

Hymen dalam takaran yang agak berlebih tentunya, bahkan menjelma menjadi semacam “ukuran nasib” seorang wanita. Hymen adalah gambaran masa depan, sehingga apabila ia telah “rusak atau ternoda”, maka gambaran kesuraman masa depan menjadi sangat nyata, merasuki setiap jejak langkah hingga beberapa keturunan keluarga berikutnya. Jika hymen dapat kita anggap sebagai “gizi”, maka kerusakan hymen dapat dianalogikan sebagai “malnutrisi herediter”.

Hymen adalah barang tersembunyi di dalam rongga vagina wanita yang “diposisikan” oleh manusia lainnya sebagai “ukuran keberterimaan sosial”. Semakin kuat seorang wanita menjaga dan mempertahankan keutuhan hymen-nya, maka semakin tinggi pula tingkat penghormatan dan penghargaan – termasuk “harga” atau “nilai” – dari orang lain, yang melekat pada wanita tersebut.

Tak jarang kita jumpai, wanita dipatok “harga”nya hanya berdasar hymen-nya. Jika masih baik dan asli, mungkin agak mahal, tetapi jika sudah “bekas”, maka tarifnya akan menurun drastis – jika tak berharga sama sekali.

Saking superiornya kedudukan hymen, maka segala cara untuk mempertahankan kondisi hymen yang masih utuh menuai jalan. Saat ini, kita menjadi kenal dengan “operasi selaput dara”. Semacam proses substitusi hymen yang lama dengan hymen yang baru.

Dengan demikian, maka sakralitas hymen sebenarnya mulai menemui fajar dekonstruksi, saat hymen tidak lagi menjadi penghalang utama dalam interaksi sosial (karena sudah bisa diganti dengan operasi). Lantas, kenapa hymen masih “direlakan” kaum wanita untuk dijadikan “instrumen” penjajahan atas diri dan masa depan mereka?

De-hymenisasi; Melawan Kekakuan Viginitas

Kontroversi film ABG “Virgin”, masih terasa hangat hingga sekarang. Sebuah film yang bercerita tentang kehidupan metropolis dalam dekapan virginitas. Sebuah kehidupan yang memungkinkan secara besar terjadinya “penjualan” atau “penggadaian” selaput dara wanita, untuk kebutuhan materiil yang lebih kompleks dan urgen. Dari sudut pandang “film value”, tontonan tersebut memang tidak banyak menitipkan makna bagi kita.

Tetapi yang kemudian menjadi “bermakna” adalah reaksi keras dari masyarakat “hymenologis” kita yang memang masih merupakan mayoritas saat ini. Tak ayal, meski pada akhirnya tidak jadi dimuseumkan, Virgin kini hanya boleh menjadi konsumsi kaum “dewasa”, yang sebenarnya kadang ada juga di antara mereka yang belum mengerti benar : Apa arti virginitas dan hubungannya dengan masa depan wanita – tentunya juga, masa depan perfilman bangsa kita ?

Sebagai produk, keperawanan (bahasa film-nya : virginitas) dengan standar hymen-nya, sebenarnya dapat saja didekonstruksi (dihancurkan). Toh kemudian jika mau jujur, saat ini yang justru banyak melegitimasi virginitas dalam kesadaran keterjajahan, adalah kaum wanita. Jika pun tak hendak melakukan dekonstruksi, taruhlah kita mencoba melakukan rekonstruksi saja atas batasan-batasan keperawanan yang diskriminatif itu.

Misalnya saja, ukuran keperawanan baru adalah : tingkat kecerdasan wanita, atau tingkat kebersenyuman wanita. Atau ukuran-ukuran lainnya yang tidak bernuansa materiil, seperti ketulussan hatinya, kebaikan budinya dsb. Kenapa tidak boleh?

Jika publik mengatakan bahwa ini salah atau keliru, apanya yang salah ? Padahal, jauh sebelum kita menapaki bumi dan mengerti simbol-simbol laki-laki dan perempuan – berikut hymen dan kecantikan, bukankah kita telah secara fitrawi dianugerahkan “kemerdekaaan” yang sama untuk berbuat dan berikhtiar merubah nasib? Dengan demikian, bukankah merubah parameter “virginitas” menjadi lebih membebaskan, adalah ikhtiar suci yang masih layak dilakukan?

Dalam kacamata ketuhanan, manusia diciptakan sama dan sederajat satu dengan lainnya. Yang membedakannya di mata Tuhan adalah tingkat keberimanan dan ketakwaannya. Ini artinya, kemerdekaan untuk melakukan dekonstruksi atau rekonstruksi “virginitas” adalah hak penuh kita, manusia? Dalam sudut pandang yang berbeda, bukankah “virginitas” bukanlah ukuran mutlak sebagai satu-satunya tanda klinis keberimanan dan ketakwaan seorang wanita ? Merdekalah !

Ukuran Virginitas yang Baru : “Kedewasaan Hidup”

Hidup mensyaratkan kesiapan untuk menerima kenyataan, dalam kondisi apapun. Silih bergantinya suka duka seiring dengan sukses dan gagalnya kita, menjadi proses pematangan kemanusiaan, bahwa segala sesuatunya memiliki keterbatasan, kecuali kesempurnaan Tuhan yang menjadi terminal akhir kita.

Oleh karena itu, jika seseorang masih berkata : “Saya masih bisa hidup dalam realitas seperti ini”, maka sebenarnya spirit seperti itu adalah bentuk bahwa kita masih merdeka untuk dapat memaksimalkan potensi dan berkarya dalam realitas.

Jika ia adalah wanita, maka itulah salah satu bentuk baru virginitas; virginitas yang didefenisikan sebagai “keaslian” dan “kemurnian”. Karena pada dasarnya, kita semua sama dan bisa melakukan hal-hal yang sama dalam kapasitas yang boleh jadi sedikit berbeda.

Mencari bentuk baru virginitas yang lebih membebaskan dan memerdekakan, merupakan tugas sosial setiap orang saat ini. Mencoba bukan berarti selalu akan salah. Maka realakan saya mencoba memperkenalkan ukuran baru virginitas – tentunya tidak lagi memaki “hymen” yang tersembunyi itu, yakni : kedewasaan hidup.

Wanita yang memiliki kedewasaan hidup, berarti juga telah memiliki kematangan dalam mengarungi suka duka kehidupannya. Kematangan hidup, bukan ukuran materialisme.

Kematangan hidup merupakan parameter imateriil yang layak dijadikan simbol keperawanan. Bukankah keperawanan dilekatkan hanya untuk dapat “menikmati” hidup dengan bahagia? Bukankah robek tidaknya hymen seorang wanita, belum berarti nikmat tidaknya berhubungan seksual dengannya?

Atau, apakah selama ini kita masih terjebak dalam pemahaman bahwa : hymen adalah ukuran kenikmatan seksual ? Adilkah memandang wanita hanya sebagai “tempat” berlabuhnya “penis” untuk menyemprotkan spermanya, dan keluar dengan angkuh di depan labia mayora, dan berujar : “Ini masih perawan !” ?

Pada bagian akhir tulisan ini, saya ingin mengatakan bahwa sudah saatnya mengangkat parameter baru keperawanan, dengan terlebih dahulu mendefenisikan “perawan” itu sebagai apa. Sehingga kesan penjajahan atas kemerdekaan kaum wanita, yang semestinya kita selalu kagumi dan agung-agungkan, tidak lagi terpampang di depan mata, dan secara sadar kita ikut menjustifikasi dan bahkan menikmati kelemahan mereka?

Mau di kemanakan mereka – wanita yang tak lagi ber-hymen atau mengalami kerusakan anatomis pada bagian hymen-nya? Mari, melakukan de-hymenisasi, dan coba mengatakan : “Saat ini, hymen bukan lagi ukuran keperawanan!” []

Loading...