Libidofilia

Loading...

Beragam interaksi dalam rutinitas kita seringkali menyisakan residu-residu seksualitas yang perlu “dikanalisasi” untuk tetap mempertahankan “homeostatis libidonik”.

Kemampuan diri untuk mengelola setiap gejolak seksualitas agar lebih positif, merupakan modal yang sangat baik untuk tetap dapat mempertahankan eksistensi. Dalam batasan ini, “kemerdekaan seksualitas” (freedom of sexuality), menjadi syarat penting dibangun secara arif dan bijaksana oleh setiap orang.

Menyebut proses kegagalan pembekuan darah sebagai hemofilia sungguh berbeda dengan menjelaskan tentang libidofilia. Libidofilia dapat dimaknai sebagai fenomena “kegagalan” dalam proses pengelolaan libido –hasrat seksualitas– seseorang. Perlu dipahami, seksualitas bukan sebatas membincangkan “persenggamaan” antar lawan jenis saja. Seksualitas sesungguhnya sangat luas maknanya.

Dalam perbincangan libidofilia, kegagalan yang dimaksudkan bisa jadi diwujudkan ke dalam ekspresi libidonik yang dilakukan secara tidak benar atau tidak lazim dilakukan banyak orang.

Boleh jadi pula, libidofilia merupakan gejolak seksualitas yang telah melampaui batas-batas kapasitas lahiriah dan tidak lagi terikat oleh norma pergaulan yang ada. Fenomena ini bisa disebabkan oleh banyak faktor, terutama lingkungan eksternal, anutan pola budaya dan prinsip hidup yang dipegangi.

Dalam kenyataannya, tidak sedikit dari kita secara tidak sadar tengah menderita libidofilia atau gejala-gejala yang sedang menunjuk ke arah libidofilia. Secara klinis, tidak tertutup kemungkinan stage penyakit ini hanya sampai pada level pseudo-libidofilia, aktifitas libidofilia yang masih belum matang benar, atau dalam bahasa keseharian: libidofilia setengah-setengah.

Patut dicurigai, kekalutan dan sejumlah kegamangan yang dialami oleh manusia dalam hidupnya, merupakan tanda dini resiko pseudo-libidofilia yang jika tidak segera diantisipasi dapat bermanifestasi serius menjadi libidofilia.

Ekspresi kegagalan dalam pengelolaan hasrat seksualitas, libidofilia, dapat saja termanifestasikan dalam banyak bentuk. Manifestasi klinis lbidofilia bisa berupa penurunan nafsu makan, gairah hidup dan konsentrasi kerja yang hilang dan sejumlah representasi “kegamangan” lainnya. Tetapi yang paling utama dalam patogenesis lbidofilia adalah ekspresi yang “berlebihan” terhadap lawan jenis yang dijumpai atau dikenalinya, dalam banyak model dan kualitas. Ekspresi berlebih, dimana-mana, selalu dimaknai tidak baik.

Untuk mereka yang dalam rutinitasnya kerap kali bersinggungan dengan banyak lawan jenis, kehilangan konsentrasi kerja dan semangat hidup secara tiba-tiba tanpa disertai oleh penyebab fisik atau kausa materiil lainnya, patut dicurigai sebagai gejala patognomonik adanya libidofilia pro evaluasi. Akibat proses seperti inilah, mengapa libidofilia menjadi sulit dikenali stadium awalnya, karena cenderung tidak disadari mula perjangkitannya.

Secara sosio-antropologis, libidofilia mesti dipandang sebagai kelaziman yang belum perlu dipertentangkan saat ini, karena maqom seksualitas kita – dan sebagian yang lain – sesungguhnya masih berkutat pada level libidofilic.

Mengantisipasi trend lbidofilia membutuhkan “kesadaran seksualitas” (sexuality concicousness) yang mapan. Tradisi kultural yang bias gender ternyata ikut memberi kontribusi berarti bagi berkembangnya realitas libidofilic di kalangan banyak orang. Salah satu bentuk kesadaran seksualitas adalah dengan menganggap bahwa antar laki-laki dan perempuan, sesungguhnya secara fitrawi tidaklah berbeda, meskipun dalam realitas materiilnya –termasuk seksualitas– bisa berbeda mencolok.

Pada gilirannya harus dipahami, bahwa tanpa perempuan, laki-laki akan menemui “kehampaan eksistensial”, bahkan tidak layak disebut “laki-laki”. Begitu pun sebaliknya. Hubungan keduanya dalam tradisi seksualitas adalah relasi yang saling “memerdekakan”, dalam bahasa lain sebagai “keberterimaan tanpa syarat”.

Kesadaran seksualitas seperti ini memungkinkan kita, dalam keseharian, tidak semata memandang lawan jenis seksual sebagai “pelengkap” saja yang karenanya dapat “dikelola” semau hati, tetapi lebih pada upaya menempatkannya sebagai “penghidup”, dan karena merekalah, dari perspektif kita, hidup bisa benar-benar “lebih hidup”.

Tanpa kesadaran seksualitas, libidofilia akan selalu ada sebagai bentuk kegagalan pengelolaan libido seksual, sekaligus sebagai wujud kebekuan “komunikasi seksualitas” (sexuality communication).[]

Loading...